Ekidna Cyclops, Mamalia Bertelur Papua yang Ditemukan Lagi

Penulis : Gilang Helindro

Biodiversitas

Senin, 13 November 2023

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Echidna paruh panjang (Zaglossus attenboroughi) kembali terekam video kamera trap atau kamera jebakan yang dipasang di Pegunungan Cyclops, Papua. 

James Kempton, peneliti Oxford University menyatakan, penemuan ini telah diperkuat pernyataan dua ahli mamalia Australasia Kris Helgen dan Tim Flannery. Kedua pakar sepakat menyatakan mamalia berukuran 48-64 cm dengan berat 4-9 kilogram (kg) yang tertangkap kamera jebakan adalah Echidna Paruh Panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi). 

Sebelumnya, spesies endemik Papua ini pertama kali diidentifikasi oleh Pieter van Royen, seorang ahli botani Belanda di Gunung Rara, Pegunungan Cyclops Papua, pada tahun 1961.

Nurul Inayah, peneliti mamalia dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi – Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN menjelaskan, Echidna Paruh Panjang Attenborough adalah spesies mamalia monotremata atau mamalia bertelur dan berevolusi dari mamalia berplasenta dan berkantung lebih dari 200 juta tahun yang lalu. 

Temuan Echidna Paruh Panjang, Status Konservasi Perlu di Evaluasi. Foto: BRIN

Hingga saat ini kata Nurul, terdapat lima spesies monotremata di dunia yang masih hidup, yaitu Platipus paruh bebek (Ornithorhyncus anatinus), Echidna Paruh Pendek (Tachyglossus aculeatus), Echidna Paruh Panjang Timur (Zaglossus bartoni), Echidna Paruh Panjang Barat (Zaglossus bruijnii), dan Echidna Paruh Panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi).

Menurut Nurul, spesies monotremata memiliki keunikan di antara mamalia lainnya, karena memiliki kloaka, tidak memiliki puting susu, dan bertelur. Meskipun perbedaan morfologi yang menentukan monotremata sudah diketahui, banyak aspek biologinya yang tidak diketahui. “Hal ini dikarenakan hewan nokturnal ini mendiami daerah terpencil dan hidup di liang, terutama untuk Echidna Paruh Panjang,” katanya dalam keterangan resminya, Minggu, 12 November 2023.

Amir Hamidy dari Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati (SKIKH) BRIN menyatakan, bahwa status keterancaman global Echidna Paruh Panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi) menurut Daftar Merah IUCN adalah kategori kritis (Critically Endangered).

Amir mengatakan, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) nomor P.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, hanya dua spesies mamalia monotremata yang masuk sebagai jenis dilindungi di Indonesia yaitu Tachyglossus aculeatus dan Zaglossus bruijni. 

“Status konservasi Echidna Paruh Panjang Attenborough ini juga perlu dievaluasi dan bisa dimungkinkan untuk diusulkan menjadi jenis yang dilindungi,” ungkap Amir.

SHARE