BRIN: Evaluasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah TPA Bantargebang

Penulis : Gilang Helindro

Sampah

Sabtu, 25 Februari 2023

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Menurut Haznan Abimanyu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, PLTSa dibangun sejak 2018 dan selesai pada 2019. Pada 2019 dilakukan commissioning dan diresmikan oleh Menko Maritim Bapak Luhut B Panjaitan. Selanjutnya, pada 2020 sampai dengan 2022 PLTSa dioperasikan oleh DKI Jakarta cq Dinas Lingkungan Hidup dengan didampingi oleh BRIN. Jadi artinya sampai saat ini, PLTSa beroperasi sudah 4 (empat) tahun lebih.

PLTSa Merah Putih, merupakan PLTSa pertama di Indonesia yang beroperasi secara kontinyu. PLTSa yang di desain, konstruksi, pengoperasian oleh putra putri Indonesia. "Performance hingga saat ini masih bagus ditandai dengan parameter-parameter desain masih terpenuhi," tandasnya.

Hal itu dibuktikan dengan emisi yang masih di bawah baku mutu yang ditetapkan KLHK untuk pembakaran sampah. PLTSa Merah putih sampai saat ini masih menjadi tempat untuk studi banding dari pemda lain, tempat belajar bagi mahasiswa magang, kuliah lapangan sampai dengan masyarakat DKI untuk melihat dari dekat proses pengolahan sampah secara terintegrasi.

PLTSa, menurut Haznan, utamanya adalah untuk memusnahkan sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan, secara cepat dan ramah lingkungan dan Energi listrik yang terjadi merupakan bonus. Selain itu, ia menekankan bahwa PLTSa yang dipakai yang berbahan bakar sampah tidak dipilah, sangat sulit untuk menghasilkan listrik secara optimal. "PLTSa yang dibangun ini adalah fasilitas untuk membakar sampah kering yang sudah sudah dipilah," tuturnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantar Gebang. foto : bppt.go.id

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan  menurutnya adalah mengedukasi dan menegakkan peraturan agar masyarakat memilah sampah menjadi 5 bagian : Sampah organik, sampah bisa didaur ulang, sampah plastik,  sampah mudah terbakar non plastik, dan sampah residu. PLTSa ini dimanfaatkan untuk mengolah sampah mudah terbakar non-plastik.

"PLTSa di Bantargebang sudah berhasil, tapi belum optimal. PLTSa tersebut masih skala pilot plant skala kecil. Agar lebih optimal maka perlu dibangun skala besar, dan yang tak kalah penting juga masyarakat harus dilibatkan untuk melakukan memilah sampah," tandasnya. Ia menjelaskan, sampah yang tercampur dengan sampah organik yang basah, sangat sulit untuk dibakar dan menghasilkan listrik. Sampah organik ini dapat dijadikan makanan maggot, dan maggot bisa dimanfaatkan untuk makanan ayam dan lele.

Menurutnya, PLTSa Bantargebang dapat diterapkan di setiap kota, yang menerapkan strategi pilah sampah. Tanpa itu, ia menegaskan, PLTSa di manapun di Indonesia sangat sulit dikembangkan secara ekonomis. "Alam Indonesia yang berada di daerah tropis kondisinya bercurah hujan tinggi dan kelembaban tinggi, membuat sampah-sampah di Indonesia berinilai kalor rendah. Hal ini berbeda dengan sampah-sampah dari negera sub tropis yang bercurah rendah dan kelembaban yang rendah," pungkasnya. Sebagai informasi, selain teknologi dalam PLTSa, BRIN mengembangkan Strategy Integrated City Waste Management.

SHARE